23 Juli 1947 — 14 Agustus 2025

Opung Cecilia Doli Siringoringo

Biografi Seorang Pejuang Hidup

“Semakin tua dia, semakin terang hidupnya.”
— Namboru

Kata Pengantar

Cahaya dari Samosir

Pernahkah kita bertemu dengan seseorang yang mampu mengubah kata “tidak bisa” menjadi “pasti bisa”? Bagi saya, orang itu adalah Ayah saya, Opung Cecilia Doli Siringoringo.

Kisah ini bermula dari tanah kelahiran di Pulau Samosir, tempat gondang sabangunan mengiringi pesta, anak-anak berlarian di pematang sawah, dan doa rosario dipanjatkan di rumah-rumah sederhana. Dari desa kecil itu, seorang anak lahir dengan kondisi kaki yang pincang akibat kecelakaan. Banyak yang mengejek, tetapi justru dari situlah lahir tekad yang membara.

Ketika tahun 1977 keluarga hendak menikahkan Bapak dengan Mama, Linda br. Rumapea, muncul keraguan. Saat itu, Namboru dengan suara tegas berkata: “Semakin tua dia, semakin terang hidupnya.” Dan kalimat itu benar adanya.

Tahun 1973, Bapak meninggalkan Samosir dengan kapal laut menuju Papua. Tiba di Pelabuhan Sorong, ia hanya membawa beberapa karung jagung dan semangat pantang menyerah.

Tahun 1973 (usia 26)
Yatim, cacat kaki, modal jagung, tanpa kenalan.
Tahun 2025 (saat wafat)
Pemilik 7 ruko tiga lantai, 8 sertifikat tanah, kos 40 kamar, guest house, dan dihormati ratusan orang.

Pada 20 Agustus 2025, Bapak dimakamkan di depan rumah sakti Op. Tanrow, kampung Sipinggan – Nainggolan, Samosir, dengan upacara Saur Matua — penghormatan tertinggi dalam adat Batak. Hujan pertama setelah kemarau empat bulan turun di hari itu.

Kisah ini adalah ajakan untuk melihat hidup dengan mata iman: keterbatasan bukan penghalang, melainkan undangan untuk menjadi lebih kreatif, lebih kuat, dan lebih bersyukur.

Martua Canon Siringoringo
Sorong, September 2025

Bab 1

Akar di Tanah Samosir

1947 – 1973

Di tanah itulah, kampung Sipinggan – Nainggolan, pada tahun 1947, lahirlah seorang anak dari pasangan Nahason Siringoringo dan Tiomsa Sihotang. Anak itu diberi nama Albiner Siringoringo. Ia adalah anak keempat dari lima bersaudara.

Luka di Masa Kecil

Saat masih belia, ia mengalami kecelakaan kecil ketika bermain jungkat-jangkit. Kaki kanannya terkilir parah dan tidak pernah pulih. Anak-anak kampung sering mengejek: “Pincang! Pincang!” Namun Bapak tidak menyerah. Ia berjanji: kalau tubuhnya terbatas, semangatnya tidak boleh kalah.

Kehilangan Ayah

Opung Doli Nahason meninggal saat Bapak masih kecil. Opung Boru Tiomsa menanggung beban besar membesarkan lima anak seorang diri. Dari ibunya, Bapak belajar arti tanggung jawab.

Filosofi Hidup: Mengerjakan Sendiri

Meski jalannya pincang, Bapak tetap membantu di ladang, ikut menumbuk padi, dan menggembala ternak. Lahirlah prinsip: “Mengerjakan sendiri semua pekerjaan.”

Fondasi Iman Katolik

Setiap minggu, ia berjalan terpincang-pincang menuju gereja. Dari altar sederhana itu, ia belajar bahwa nasib bukan untuk diratapi, tetapi untuk dilawan dengan doa dan ketekunan.

Tekad Merantau

Menjelang dewasa, dengan modal seadanya — beberapa karung jagung, doa ibunya, dan keberanian yang membara — ia memutuskan pergi menuju Papua.

Refleksi

Bab 1 ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukan akhir, tetapi awal dari kekuatan. Dari olok-olok masa kecil, lahir tekad untuk membuktikan diri. Dari kehilangan ayah, tumbuh tanggung jawab.

Bab 2

Langkah Pertama di Papua

1973 – 1978

Perjalanan ke Ujung Timur Nusantara

Jalur yang ditempuh panjang: Samosir–Medan–Jakarta–Manokwari–Sorong. Rosario selalu digenggamnya, seolah menjadi jangkar iman di tengah lautan luas.

Mimpi Kuliah yang Kandas

Tujuan awal adalah kuliah di Universitas Cenderawasih. Namun dengan kondisi kaki pincang, ia tidak sanggup mengikuti syarat fisik. Falsafahnya: “Jika rencana A gagal, masih ada rencana B, C, bahkan Z.”

Makan Siang di Rumah Makan Padang

Pemilik rumah makan Padang menyajikan sepiring nasi Padang lengkap, gratis. Bapak menyebutnya “makan siang paling berharga dalam hidup saya.” Dari situ ia belajar: kebaikan yang diterima di masa sulit harus dibalas dengan kebaikan pula.

Persahabatan dengan Patar Panjaitan

Mereka dikenal sebagai “sahabat yang tak terpisahkan.” Lebih dari lima puluh tahun kemudian, Amang Panjaitan datang ke Sipinggan untuk penghormatan terakhir.

Menemukan Bakat Fotografi

Di sela-sela kerja keras, Bapak belajar fotografi di studio lokal. Inilah titik balik. Papua yang sedang berkembang pesat adalah pasar besar untuk jasa dokumentasi visual.

Refleksi

Awal hidup Bapak di Papua bukan tentang kesuksesan besar, melainkan tentang bertahan hidup. Dari sepiring nasi Padang, ia belajar arti kebaikan. Dari fotografi, ia menemukan jalan hidup.

Bab 3

Cinta dan Partnership

1977 – 1978

Panggilan dari Opung Boru Tanrow

Surat dari kampung: sudah waktunya Bapak berkeluarga. Opung Boru Tanrow melihat tanda-tanda kematangan.

Perjodohan di Siantar

Mama sempat ragu. Di tengah kebimbangan, hadir Namboru dengan suara tegas:

“Semakin tua dia, semakin terang hidupnya.”

Pernikahan di Sipinggan – Nainggolan

Tahun 1978, pernikahan dilangsungkan di kampung halaman. Gondang sabangunan ditabuh, tortor digelar, ulos pengantin diselempangkan.

Partnership Sejati

Bapak penuh ide dan semangat, Mama hadir dengan kesabaran dan ketelitian. Bapak sering berkata: “Keputusan menikahi Mama adalah keputusan terbaik dalam hidup saya.”

Refleksi

Kisah cinta Bapak dan Mama adalah bukti bahwa pernikahan bukan hanya soal jatuh hati, tetapi soal keberanian untuk memilih dan bertahan.

Bab 4

Membangun Kerajaan Kecil

1978 – 1990

Studio Foto: Awal Sebuah Usaha

Usaha pertama yang mereka rintis adalah studio foto. Bapak mengurus teknis pemotretan, Mama melayani pelanggan. Filosofinya: “Kalau bisa dikerjakan sendiri, kerjakanlah dengan sebaik-baiknya.”

Dari Studio ke Toko Ringo

Seiring waktu, lahirlah toko alat tulis — Toko Ringo. Anak-anak ikut tumbuh di dalamnya: menjaga etalase, menata buku, melayani pelanggan.

Anak-Anak yang Ikut Bekerja

Sejak SD hingga SMA, bekerja bersama Bapak adalah kebiasaan kami, pada hari libur maupun hari kerja. Toko Ringo di depan Kodim adalah toko sekaligus rumah keluarga kami, sehingga seluruh kegiatan kami berpusat di sana: menjaga toko, membersihkan rumput di halaman, mencuci mobil, memperbaiki got yang tersumbat longsoran pasir dari gunung, hingga mengerjakan jaringan listrik di plafon dan dinding rumah.

Yang paling rutin justru dilakukan setelah toko tutup pada malam hari: bekerja di percetakan — offset, stensil, dan handpress — kadang hingga larut. Di sanalah kami menyerap banyak nasihat dan arahan Bapak yang saya kumpulkan di bagian Ingatan.

Opung Boru ke Sorong

Bapak menemukan cara kreatif mendatangkan ibunya: menyiapkan foto dan catatan dalam bahasa Indonesia untuk ditunjukkan kepada pramugari. Kisah sederhana ini menunjukkan kasih seorang anak kepada ibunya.

Badai 1990: Ujian yang Mengubah Peta#

26 September 1990, Bapak terpeleset ke belakang got. Patah tulang paha dalam tiga bagian. Golongan darah A- sangat langka. Donor darah didatangkan dari India. Operasi implant titanium. Mama setia berbulan-bulan di RS Cikini, Jakarta.

Tragedi itu hampir merenggut nyawa Bapak — dan mengubah banyak hal. Selama masa pemulihan, tiang-tiang usaha utama keluarga tetap berdiri di tempatnya: Toko Ringo (alat tulis dan kebutuhan sekolah), layanan fotokopi, dan penjilidan tetap berjalan dengan penuh perjuangan, digerakkan oleh Mama dan anak-anak yang harus tumbuh lebih cepat dari usia mereka. Di sela-sela itulah, di masa-masa yang penuh keterbatasan, Bapak mencoba sebuah peruntungan sampingan: usaha cuci pasir di Malanu. Bukan untuk menggantikan usaha utama, melainkan untuk menambah pundi dan menangkap peluang yang kebetulan terbuka. Hasilnya, yang dikumpulkan sedikit demi sedikit dari tanah merah Malanu, kemudian menjadi salah satu sumber modal awal untuk pembangunan kompleks ruko di pusat kota Sorong.

Usaha utama keluarga
Toko alat tulis · Fotokopi · Penjilidan — pondasi yang tidak pernah ditinggalkan.
Usaha sampingan
Cuci pasir di Malanu — diambil saat ada peluang, hasilnya membantu membiayai pembangunan ruko.

Refleksi

Badai 1990 mengajarkan kami satu hal: yang menyelamatkan keluarga bukan satu usaha tertentu, melainkan kemampuan untuk tetap berjalan dengan segala yang ada. Toko, fotokopi, penjilidan, dan usaha sampingan di Malanu — semuanya adalah cara Bapak dan Mama menjawab keterbatasan dengan kerja, iman, dan gotong-royong.

Bab 5

Era Emas dan Ekspansi

1990 – 2010

Dari Cuci Pasir ke Ruko Tiga Lantai

Puncaknya adalah pembangunan 7 ruko tiga lantai di pusat kota Sorong. Dari seorang perantau cacat kaki dengan modal jagung, kini berdiri deretan bangunan megah.

Ekskavator Caterpillar: Pelajaran tentang Melepas#

Memori Pribadi · Canon

Di tengah kesibukan mengelola Toko Ringo, layanan fotokopi, dan penjilidan, Bapak pernah mengambil keputusan besar: membeli sebuah ekskavator Caterpillar bekas dari Jakarta. Seperti aset-aset lain yang dimilikinya, mesin ini awalnya disewakan — dengan harapan menjadi sumber pemasukan tambahan di luar usaha utama keluarga, tanpa harus menguras waktu dan pikiran kami di lapangan.

Namun kenyataannya tidak sederhana. Ekskavator bekas itu lebih sering bermasalah daripada bekerja: hidrolik bocor, mesin cepat panas, onderdil yang tidak lagi mudah dicari. Mekanik dipanggil berulang kali, dan setiap kunjungan selalu diiringi kuitansi yang tidak kecil. Pengeluaran servis perlahan menggerus apa yang seharusnya menjadi keuntungan, sementara unit yang disewakan terlalu sering off untuk bisa diandalkan.

Ekskavator Caterpillar bekerja menggali Gunung Malanu 1
Ekskavator Caterpillar menggarap Gunung Malanu 1 — di sinilah lapisan tanah merah diolah menjadi material untuk instalasi pencucian pasir. Koleksi keluarga · sekitar akhir 1990-an

Akhirnya, pada sekitar tahun 1996 — ketika saya duduk di kelas 2 SMA — keputusan diambil: ekskavator itu dialihkan dari sewa menjadi alat produksi sendiri. Bapak mengarahkannya ke Gunung Malanu 1, menyuplai material bagi usaha sampingan cuci pasir yang sudah berjalan. Bukit digali, tanah merah diolah, dan hasilnya menjadi pasir yang siap dijual. Usaha sampingan ini bukan untuk menggantikan usaha utama, melainkan untuk menangkap peluang yang kebetulan terbuka — sambil tetap menjadikan Toko Ringo, fotokopi, dan penjilidan sebagai pondasi keluarga.

Ekskavator di puncak dan instalasi pencucian pasir di bawahnya
Di atas: ekskavator menggali bukit. Di bawah: instalasi pencucian pasir sederhana dengan blue tarp sebagai dapur produksi. Koleksi keluarga
Saya bersama pekerja di lokasi pencucian pasir Gunung Malanu
Saya bersama pekerja di lokasi pencucian pasir Gunung Malanu — saya datang saat libur sekolah atau seusai pulang kuliah, membantu apa yang bisa dibantu. Memori pribadi · Canon

Ekskavator yang sama juga pernah dipakai untuk menggali bukit kecil di samping rumah kami yang beralamat di depan KODIM. Hasil galiannya dijadikan lahan tambahan, sehingga rumah kami bisa dibangun lebih luas — seperti bentuknya yang berdiri hingga sekarang. Saya masih ingat debu merah yang beterbangan, suara hidrolik yang menjadi latar belakang musim itu, dan Bapak yang berdiri di atas bukit memperhatikan arah galian dengan saksama.

Saat itu saya belum sepenuhnya mengerti bahwa setiap gerak mesin itu adalah buah pikiran dan keringat Bapak. Saya hanya melihat debu dan suara. Bertahun-tahun kemudian, baru saya sadari betapa besar beban yang Beliau tanggung seorang diri atas nama keluarga. — Martua Canon Siringoringo

Ketika saya sudah duduk di bangku kuliah, Bapak masih terus berusaha menghidupkan kembali ekskavator yang sudah mulai tua itu. Beberapa kali saya dimintanya mencarikan suku cadang — selang-selang hidrolik (hose), bearing, dan komponen lain yang tidak mudah ditemukan di Sorong. Saya pergi dari satu toko onderdil ke toko onderdil, mencatat nomor seri, menggambar sketsa sederhana, membawa pulang apa yang cocok — dan yang tidak cocok, saya kembalikan dengan penjelasan. Tidak selalu berhasil pada percobaan pertama, tetapi saya merasa sedang membantu Bapak dengan cara yang saya bisa.

Namun sekitar tahun 2002–2003, dengan beban pikiran yang semakin berat, Bapak membuat keputusan yang sangat sulit: menjual ekskavator itu. Bukan karena tidak ada yang mau membeli, melainkan karena Bapak sudah menyadari bahwa aset yang dulu dibelinya dengan harapan besar itu lebih banyak membebani pikiran dan biaya daripada memberi manfaat. Saya masih ingat bagaimana keputusan itu menggoreskan beban emosional di wajah Beliau — melepas mesin yang sudah menjadi bagian dari rencana hidupnya bukan perkara mudah. Tetapi Bapak memilih ketenangan keluarga di atas ego dan penumpukan aset.

Awal 1990-anEkskavator bekas dibeli dari Jakarta & awalnya disewakan.
1996Dialihkan ke Malanu & galian samping rumah (depan KODIM).
Masa kuliah sayaBapak masih memperbaiki; saya ikut mencarikan onderdil.
2002 – 2003Bapak memutuskan menjualnya — melepas dengan berat, tapi dengan mata terbuka.

Refleksi

Pelajaran terbesar dari ekskavator itu bukan soal teknik menggali atau hitung-hitungan untung-rugi, melainkan soal keberanian melepas. Ada aset yang harus dipertahankan mati-matian, dan ada yang harus dilepas dengan penuh perhitungan dan rasa syukur. Bapak mengajarkan kami bahwa keputusan paling sulit pun bisa diambil dengan mata terbuka, selama itu untuk kebaikan keluarga.

Mobil Pickup Putih: Sahabat Operasional di Malanu#

Selain ekskavator, di periode itu keluarga kami juga memiliki sebuah mobil pickup putih yang menjadi tulang punggung operasional di Malanu. Mobil itu mengangkut material dari lokasi galian ke instalasi pencucian pasir, membawa para pekerja pulang-pergi, dan kadang mengantar suku cadang ekskavator dari kota. Body putihnya cepat kotor oleh debu merah Malanu, tetapi tidak pernah mogok saat benar-benar dibutuhkan.

Mobil pickup putih untuk operasional di lokasi pencucian pasir Gunung Malanu
Mobil pickup putih keluarga — workhorse yang mengangkut pasir, pekerja, dan onderdil di areal Gunung Malanu. Koleksi keluarga · operasional Malanu

Ketika Bapak memutuskan menjual ekskavator pada tahun 2002–2003, mobil pickup putih itu pun ikut dilepas. Alasannya sederhana namun jujur: tanpa ekskavator dan tanpa operasional pencucian pasir, mobil itu tidak lagi punya alasan untuk tetap di keluarga. Hasil penjualannya — bersama uang dari ekskavator — dialokasikan untuk kebutuhan yang lebih mendesak, dan untuk pengembangan usaha utama yang memang sudah berjalan sejak lama: Toko Ringo, layanan fotokopi, dan penjilidan.

Refleksi

Ada fase dalam hidup ketika kita harus berani melepas — bukan karena kalah, tetapi karena sudah cukup. Ekskavator dan pickup putih itu pergi, tetapi usaha utama keluarga tetap berdiri. Itulah warisan yang paling jujur: bukan pada mesin, melainkan pada prinsip untuk tidak menggenggam sesuatu melampaui batas waktunya.

Griya Ringo: Peninggalan Bapak yang Diteruskan untuk Turis Raja Ampat#

Memori Pribadi · Canon

Sekitar tahun 1990 — di tahun-tahun ketika Toko Ringo utama di depan KODIM sudah mulai stabil — Bapak memutuskan membuka cabang kedua: Toko Ringo Jalan Baru Sudirman. Lokasinya dipilih di salah satu titik paling strategis di pusat kota Sorong: deretan pertokoan yang ramai, mudah dijangkau dari berbagai arah, dan cukup dekat dengan pelabuhan serta area perkantoran. Cabang ini melanjutkan DNA usaha keluarga — alat tulis, buku, layanan fotokopi, dan penjilidan — dengan etalase yang lebih lebar dan stok yang lebih lengkap.

Toko Ringo Jalan Baru Sudirman - bangunan lama, 2014
Toko Ringo Jalan Baru Sudirman — cabang yang Bapak dirikan sekitar tahun 1990, diabadikan sebelum pembongkaran di 2014. Koleksi keluarga · 2014

Hampir dua dekade cabang ini melayani pelanggan Sorong. Anak-anak yang dulu ikut menjaga etalase sudah mulai menanggung pengelolaan usaha, dan pada tahun 2014 kami mengambil keputusan yang sudah lama dibicarakan: mengganti bangunan Toko Ringo Jalan Baru Sudirman yang sudah menua dengan bangunan baru yang lebih relevan dengan arah kota ke depan.

Papan nama Toko Ringo cabang lama
Papan nama “Ringo” — salah satu sudut yang paling dikenali pelanggan di Jalan Baru Sudirman. 2014
Pembongkaran Toko Ringo lama
Mei 2016 — pembongkaran bangunan lama dimulai. Sebelum menjadi Griya Ringo, di sinilah debu dan suara palu memenuhi sudut jalan itu. Koleksi pribadi · Mei 2016

Peluangnya sederhana tapi jelas: Sorong adalah pintu masuk resmi menuju Raja Ampat — salah satu destinasi selam dan wisata alam terbaik dunia. Seiring naiknya jumlah wisatawan mancanegara yang berdatangan, kebutuhan akan akomodasi yang bersih, aman, dan terjangkau menjadi nyata. Kami melihat bahwa lahan dan lokasi yang sudah Bapak beli di tahun 1990 adalah aset yang tepat untuk menjawab peluang itu. Bapak yang meletakkan fondasinya; kami hanya perlu mengubah bangunannya.

Setelah pembongkaran rampung, September 2016 menjadi awal pembangunan Griya Ringo — sebuah guest house tiga lantai yang dirancang untuk melayani tamu mancanegara yang ingin berwisata ke Raja Ampat. Nama “Ringo” dipertahankan sebagai penghormatan kepada Bapak, dan “Griya” (rumah) ditambahkan untuk menandai fungsi barunya.

Pembangunan Griya Ringo September 2016
September 2016 — pembangunan Griya Ringo dimulai di atas lahan yang sama. Koleksi pribadi · konstruksi
Bangunan Griya Ringo jadi
Bangunan Griya Ringo yang sudah jadi — tiga lantai dengan aksen batu dan signage “GRIYA Ringo”. Koleksi keluarga
Sekitar 1990Bapak membangun Toko Ringo cabang Jalan Baru Sudirman.
2014Keputusan mengganti bangunan lama dengan bangunan baru.
Mei 2016Pembongkaran bangunan Toko Ringo lama.
Sep 2016Pembangunan Griya Ringo dimulai.
SekarangBeroperasi melayani turis manca negara untuk wisata Raja Ampat.
Lobby Griya Ringo
Lobby Griya Ringo — resepsionis, area tunggu, dan sentuhan Batak pada karya seni dinding. Setiap pagi, tamu dari berbagai negara melangkah masuk dari titik yang sama — lokasi yang Bapak pilih lebih dari tiga dekade lalu. Koleksi pribadi · operasional Griya Ringo
Semua ini adalah peninggalan Bapak yang diteruskan oleh saya. Lahan ini Beliau yang beli. Keputusan membuka toko di sini, Beliau yang ambil. Yang saya dan kakak-kakak lakukan di tahun 2014 hanya menerjemahkan warisan Beliau ke dalam bentuk yang relevan dengan zaman. Nama “Ringo” tetap di sana, supaya setiap kali tamu bertanya, kami bisa menjawab: ini dari Bapak saya. — Martua Canon Siringoringo

Hingga hari ini, Griya Ringo tetap beroperasi — melayani para pelancong mancanegara yang ingin berwisata ke Raja Ampat: penyelam yang ingin melihat pari manta, fotografer yang mengejar karang hidup, dan keluarga yang ingin menjajal pulau-pulau kecil di sekitarnya. Setiap kali saya berdiri di lobby dan melihat tamu masuk dengan koper besar, saya merasa Bapak ada di sana — dalam keputusan Beliau membeli lahan di tahun 1990, dan dalam setiap hal kecil yang Beliau wariskan.

Refleksi

Kadang warisan bukan berupa benda, melainkan berupa lokasi dan keputusan yang sudah diambil lebih dulu. Bapak memilih sudut Jalan Baru Sudirman di tahun 1990, jauh sebelum ada yang membayangkan Raja Ampat akan menjadi destinasi kelas dunia. Puluhan tahun kemudian, di tempat yang sama, kami memilih membangun untuk para pelancong dari seluruh dunia. Rantai keputusan itu yang membuat Griya Ringo bukan hanya bisnis — melainkan perpanjangan tangan Bapak yang masih bekerja sampai sekarang.

Panutan di Komunitas & Hidup Sederhana

Bapak mulai dikenal sebagai panutan. Meski memiliki banyak aset, ia tetap hidup sederhana. “Kekayaan bisa habis, tetapi cara kerja dan iman tidak boleh hilang.”

Refleksi

Bab 5 menunjukkan puncak keberhasilan seorang perantau. Dari studio foto kecil hingga ruko tiga lantai, semuanya dicapai karena kerja keras, ketekunan, dan iman.

Bab 6

Mentorship dan Legacy Building

2000 – 2015

Melatih Generasi Kedua

Saya, Canon, mulai dilibatkan serius. Semua dimulai dari hal-hal kecil: mencuci mobil, mengangkat barang, menjaga toko. Kadang terasa keras, tetapi belakangan saya mengerti: itu semua cara Bapak menanamkan disiplin dan tanggung jawab.

Lift di Toko Ringo

Dengan bantuan Abang Elkana, saya memodifikasi derek bekas menjadi lift sederhana. Ketika lift itu berfungsi, saya melihat Bapak meneteskan air mata. Tangisan itu bukan kelemahan, melainkan ungkapan haru: anak-anaknya benar-benar peduli.

Refleksi

Warisan terbesar Bapak bukan tanah atau ruko, melainkan nilai hidup. Hidup yang bermakna adalah hidup yang dibagikan.

Bab 7

Triple Burden dan Spiritual Journey

2015 – 2025

Ujian Usia Senja

Triple burden: operasi medis yang tidak berhasil, serangan stroke, dan pandemi COVID-19.

Episode COVID-19: Keajaiban Medis

8 Agustus 2022, Bapak tertular COVID-19. Profil risiko ekstrem: usia 75 tahun, multiple comorbidities, immobilized. Tim medis menyebut pemulihannya sebagai “keajaiban medis.” Dari perspektif keluarga, ini adalah intervensi ilahi.

Intensifikasi Spiritual

Doa menjadi rutinitas. Bapak meminta salib dipindahkan setinggi tempat tidur. Iman menjadi sumber utama kekuatan.

Tour Pamitan

Bul-bulan menjelang penyakit terakhir, Bapak meminta dibawa ke Kos 40 Kamar, Studio Foto, dan Toko Ringo — bentuk pamitan dari karya hidupnya.

Refleksi

Bahkan dalam menghadapi tantangan fisik yang overwhelming, semangat manusia dapat menjaga martabat, tujuan, dan koneksi spiritual yang mendalam.

Bab 8

Kepulangan dan Warisan Abadi

Agustus 2025

14 Agustus 2025

Jam 3:30 sore, dalam suasana yang sangat tenang, dikelilingi Mama Linda, Abang Elkana, Ito Eva, dan saya, Bapak menghembuskan napas terakhirnya. Tidak ada distress —justru ada kedamaian yang luar biasa.

Persahabatan yang Setia

Amang Patar Panjaitan datang ke Nainggolan. Lebih dari lima puluh tahun persahabatan, dari pelabuhan Sorong hingga tanah leluhur.

Rangkaian Acara di Sorong

Sabtu, 16 Agustus 2025
Misa Requiem dipimpin Pastor Imanuel Tenau, RD di Paroki Kristus Raja Katedral Sorong. Acara adat perpisahan dipimpin tulang, hula-hula, dan dongan sahuta.
Minggu, 17 Agustus 2025
Upacara pelepasan jenazah. Perpisahan dari tanah Papua yang menjadi rumah Bapak selama 52 tahun. Keluarga berangkat menuju Bandara Silangit.

Saur Matua: Pemakaman yang Bermartabat

Rabu, 20 Agustus 2025. Pagi hari, turun gerimis setelah 4 bulan kemarau. Setelah Bapak dimasukkan ke makam, hujan turun hingga esok pagi. Hampir 600 orang hadir. Gondang sabangunan ditabuh, tortor ditarikan, ulos-ulos diselempangkan.

Warisan Abadi

  • Iman Katolik yang kokoh.
  • Filosofi kerja keras: “mengerjakan sendiri semua pekerjaan.”
  • Kasih keluarga yang nyata dalam kebersamaan.
  • Nama baik yang harum, dihormati bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh masyarakat luas.

Refleksi

Hidup Bapak ditutup dengan cara yang penuh makna. Dan terang yang dulu dijanjikan oleh Namboru benar-benar nyata: “Semakin tua dia, semakin terang hidupnya.”

Ingatan

Nasihat, Arahan, dan Pelajaran Bapak

oleh Martua Canon Siringoringo

Selain kisah perjuangan, ada hal lain yang tidak kalah berharga dari Bapak: kata-katanya. Di bagian ini saya kumpulkan ingatan-ingatan tentang nasihat, arahan, dan pelajaran yang Bapak tanamkan kepada kami — terutama dari masa-masa kami bekerja bersamanya sejak kecil.

Keseharian Bekerja Bersama Bapak

Sejak SD hingga SMA, bekerja bersama Bapak adalah kebiasaan kami, baik pada hari libur maupun hari kerja. Toko Ringo di depan Kodim adalah toko sekaligus rumah keluarga kami, sehingga seluruh kegiatan kami berpusat di sana. Tugas kami bermacam-macam: menjaga toko, membersihkan rumput di halaman, mencuci mobil, memperbaiki saluran got yang tersumbat longsoran pasir dari gunung, hingga mengerjakan jaringan listrik di plafon dan dinding rumah. Pekerjaan yang paling rutin justru dilakukan setelah toko tutup pada malam hari: kami bekerja di percetakan — mesin offset, stensil, dan handpress. Tidak jarang pekerjaan ini berlanjut hingga pukul satu pagi.

Tinta Cetak dan Kamar Gelap

Malam-malam itu meninggalkan kenangan tersendiri. Tangan kami biasanya penuh tinta cetak, dan karena mengantuk kami langsung tertidur tanpa sempat membersihkannya. Mama-lah yang kerap membersihkan tangan kami satu per satu. Ada pula masa ketika foto hitam putih dicetak di lab foto tradisional: kamar gelap dan pengolahan film secara manual. Kami anak-anak biasa diberi giliran bergantian untuk mengocok dan memutar bak pengolahan film yang bisa memakan waktu hingga tiga puluh menit. Dari kebiasaan inilah pelajaran-pelajaran berikut tumbuh.

Nasihat dan Arahan Bapak#

Saya pernah mengeluh lelah dan merasa berat ketika diminta bekerja lagi. Bapak menjawab dengan tenang:

“Kelelahan hari ini akan berakhir ketika kami tidur. Besok sudah segar lagi. Tidak perlu mengeluh, bekerja saja.”

Kalimat itu mengajarkan saya bahwa rasa lelah hanyalah kondisi sementara — dan tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti.

Bapak juga sering menasihati:

“Orang yang bisa dipimpin akan bisa memimpin.”

Mau tunduk pada arahan dan aturan kerja, rela belajar dari yang mengajarkan, itulah bibit kemampuan memimpin yang kemudian tumbuh.

Ada pula teguran yang tidak pernah saya lupakan. Ketika saya mengeluh mengapa saya lebih sering disuruh bekerja daripada Abang Elkana, saya kerap menjawab “saya tidak tahu” agar terbebas dari tugas. Bapak marah:

“Jangan pura-pura bodoh supaya tidak mau capek.”

Dari teguran itu saya belajar untuk tidak pernah bersembunyi di balik ketidaktahuan demi menghindari pekerjaan.

Tidak jarang pula Bapak menegur saya karena saya menjelaskan sesuatu terlalu cepat dan tidak mau mengulang apa yang telah saya jelaskan. Sikap itu oleh Bapak disebut “sombong”. Dari situlah saya belajar bahwa kemampuan harus dibagikan dengan sabar — bukan untuk merasa unggul, melainkan untuk benar-benar dipahami orang lain.

Pantang Menunda Pekerjaan#

Bapak paling tidak suka kami menunda pekerjaan. Jika ada ide, ada pikiran, ada kondisi yang perlu ditangani dan diperbaiki, semuanya harus dikerjakan segera:

“Jika ada ide, ada pikiran, ada kondisi yang perlu ditangani dan diperbaiki, maka harus dikerjakan segera.”

Bapak juga paling disiplin meminta kami bekerja dengan target — pantang istirahat sebelum selesai, pantang mundur. Prinsip inilah yang membawanya tumbuh dari satu studio kecil menjadi tujuh ruko: tidak ada pekerjaan yang dibiarkan menggantung, tidak ada setengah jalan yang dianggap selesai.

Lebih Baik Ditipu daripada Menipu

Soal kejujuran, Bapak menanamkan sebuah nasihat yang sederhana tetapi mendalam:

“Lebih baik kita ditipu orang, daripada kita menipu orang.”

Bagi Bapak, dirugikan karena ditipu adalah sesuatu yang dapat dihadapi dan dipulihkan; tetapi menjadi penipu adalah merusak nama dan kepercayaan yang tidak akan pernah kembali. Nilai inilah yang membuat Toko Ringo dipercaya pelanggannya selama puluhan tahun.

Doa yang Tidak Pernah Putus

Bapak paling suka berdoa. Ia berdoa setiap kali hendak makan, setiap sebelum membuka toko, dan setiap malam. Ia rajin mengikuti ibadah lingkungan dan pernah menjadi ketua lingkungan St. Fransiskus Xaverius di paroki kami — Paroki Kristus Raja, Sorong. Iman yang dihayati dalam keseharian itulah yang menjadi dasar ketenangan Bapak menghadapi setiap ujian hidupnya.

Anjing Kesayangan dan Arisan Marga

Di tengah kesibukannya, Bapak juga menyimpan kasih yang lembut. Ia suka memelihara anjing, dan pernah berduka hingga tiga hari lamanya karena seekor anjing kesayangannya mati — kesedihan yang menunjukkan bahwa di balik ketegasannya, Bapak memiliki hati yang menyayangi makhluk-makhluk di sekitarnya.

Bapak juga sering mengikuti arisan, pertemuan kekerabatan dengan kumpulan marganya, Situmorang. Di sanalah Bapak merawat tali persaudaraan dan membangun keakraban, sebagaimana ia menjaga keluarga besarnya sendiri.

Refleksi

Nasihat-nasihat Bapak sederhana, tetapi dalam. Kerja bukanlah beban, melainkan irama hidup yang melatih ketahanan. Merendah untuk dipimpin adalah awal mula kemampuan memimpin. Kejujuran adalah harga diri yang tidak bisa ditawar. Dan doa adalah pengikat segala usaha kepada Tuhan. Semakin kami menjalani hidup, semakin kami sadar: kata-kata Bapak itu terus menjadi penunjuk arah keluarga kami.

Jujur Ngolu

Riwayat Hidup dalam Bahasa Batak

Pemaparan Tradisional untuk Keluarga dan Komunitas

Santabi godang ma dihamu Amanta Raja, Inanta Soripada, Raja ini dongan tubu, Raja Ini Boru, Raja Ini Dongan Sahuta, Raja Ini ale ale, Tarlumobi ma dihamu Raja ini hula hula nami saluhutna.

Loas hamu majo au songon Anak Siangkangan ini Damang on lao patoranghon jujur ngolu manang Riwayat Hidup ini Damang on.

Ia Damang nami on namargoar ALBINER SIRINGORINGO, jala panggoaranna ima Ompung si CECILIA, marumur 78 Taon, Tubu Tanggal 23 Juli 1947, ima natinubuhon ni Ompung Nami Boru Sihotang nahinan. Jala marhasohotan ma tu Dainang nami ima Boru ini Raja i Boru Rumapea.

Damang on nunga leleng nian dibagas parsahiton, na terakhir masuk ma tu Rumah Sakit Selebesolu, Hari Minggu 10 Agustus 2025 jala marujung ngolu ma na di Ari Kamis i tanggal 14 Agustus 2025.

Ia Damang on Marpinompar ma 2 Anak dohot 2 Boru:

  1. Siangkangan ima AU Elkana Siringoringo, namangalap ni Boru ini Raja i Boru Tampubolon. Dibasabasahon Tuhan ma dihami 2 Boru: Cecilia Br. Siringoringo, Clara Br. Siringoringo.
  2. Sipaidua ima Martua Canon Siringoringo, namangalap ni Boru ini Raja i Boru Rumapea. Dibasabasahon Tuhan tu Nasida 1 anak: Maximilian Maruli Siringoringo.
  3. Sipaitolu ima Maria Oneva Siringo Ringo, Nadialap Anak Ini Raja i Marga Tampubolon. Dibasabasahon Tuhan tu Nasida 3 Anak 1 Boru: Choky Mangihut Tampubolon, Clinton Don Tampubolon, Ciel Marquez Tampubolon, Cheryl Nediva Br. Tampubolon.
  4. Sipaiopat ima Asti Romeli Siringoringo, Nadialap Anak ini Raja i Marga Simanjorang. Dibasabasahon Tuhan tu Nasida 2 anak: Ariesto Benedict Simanjorang, Nicholas Evan Hasiholan Simanjorang.

Jala pungu ma ude toropni pinompar ini Damang on 18 (Sampuluwalu) Halak.

Songoni ma Amang Inang Jujur Ngolu Damang nami on, asa boan hamu ditangiang muna jala pasupasu hamu hami saluhut Pinoparna asa dapot HAGABEON DOHOT HASANGAPON hami saluhut na. Mauliate ma Horas Jala Gabe.

Epilog

Pembuktian Dorongan Spiritual

oleh Martua Siringoringo

Ketika saya berdiri di tepi makam Bapak di Sipinggan Nainggolan pada sore hari 20 Agustus 2025, dikelilingi hampir 600 orang, pikiran saya melayang kembali ke hampir lima dekade lalu — ke dorongan Namboru: “Bapak semakin tua semakin terang.”

Transformasi yang Melampaui Ekspektasi

Tahun 1973 (usia 26)
Anak yatim berkaki cacat dari desa terpencil. Modal: jagung beberapa karung. Kenalan: tidak ada. Pekerjaan: tidak punya.
Tahun 2025 (saat wafat)
Pemilik 7 ruko 3 lantai, 8 sertifikat tanah seluas 7.500 m², kos 40 kamar, guest house. Hampir 600 orang hadir di pemakamannya.

Jika ini bukan “semakin terang,” lalu apa namanya?

Lima Pelajaran Universal

  1. Keterbatasan adalah Undangan untuk Kreatif — Template bunga di studio foto dan lift pribadi dari derek bekas adalah contohnya.
  2. Partnership yang Saling Melengkapi — Kesuksesan Bapak tidak bisa dipisahkan dari partnership dengan Mama Linda selama 47 tahun.
  3. Nilai dan Integritas — Reputation yang dibangun berdasarkan konsistensi menjadi aset paling berharga.
  4. Iman sebagai Anchor dalam Badai — Kepercayaan spiritual memberikan stabilitas dan guidance.
  5. Think Legacy, Not Just Success — Berpikir beyond personal achievement untuk dampak jangka panjang.

Pesan untuk Pembaca

Jika seorang anak berkaki cacat dari Pulau Samosir bisa membangun kerajaan bisnis di Papua dan meninggalkan warisan yang menginspirasi ratusan orang, tidak ada alasan mengapa orang lain tidak bisa mencapai versi keagungan mereka sendiri.

Horas, Bapak. Terima kasih untuk semua yang telah Bapak berikan kepada kami. Kami akan melanjutkan apa yang telah Bapak mulai.

Martua Siringoringo, S.Kom., M.M.
Sorong, September 2025

Kepada Maximilian dan generasi mendatang: Opung Doli membuktikan bahwa tidak ada yang mustahil bagi mereka yang tidak pernah menyerah. “Semakin tua semakin terang” — lima kata yang mengubah nasib sebuah keluarga.

Lampiran

Pomparan Opung Cecilia Doli

& Boru Cecilia Siringoringo

Opung Cecilia Doli dan Boru Cecilia Siringoringo diberkati empat orang anak. Dari mereka, tumbuhlah sebuah pohon keluarga yang kini menghasilkan 18 orang keturunan.

1. Abang Elkana Siringoringo & Kakak Desi Aryanti br. Tampubolon

Dua putri: Cecilia br. Siringoringo (cucu pertama, Opung Doli Cecilia) dan Clara br. Siringoringo.

2. Martua Canon Siringoringo & Niningsih Yani Muis br. Rumapea

Satu putra: Maximilian Maruli Siringoringo. Panggilan lahir: Ama Maximilian.

3. Ito Maria Oneva Siringoringo (Ito Eva) & Lae Jimmi Powo Tampubolon

Empat anak: Choky, Clinton Don, Ciel Marquez, Cheryl Ndiva.

4. Ito Astty Violita Polimpung Romeli Siringoringo & Lae Frangky Simanjorang

Dua putra: Ariesto Benedict dan Nicholas Evan Hasiholan.

Rekapitulasi Pomparan

KategoriJumlah
Anak laki-laki dan menantu perempuan4 orang
Anak perempuan dan menantu laki-laki4 orang
Cucu dari putra3 orang
Cucu dari putri6 orang
Total keturunan18 orang

Ia mungkin telah pergi, tetapi terang hidupnya tetap menyala dalam 18 keturunan yang meneruskan namanya.